my campus
IPB Badge

Nama : Vicky Oktriviani
NRP : G44100073
Laskar : 1 (Satu)

LANGSUNG JAYA ?

Hari ini saya baru saja pulang mudik dari kampung halaman di Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Pada siang hari perjalanan pulang mudik itu, saya melihat sebuah bus bernama LANGSUNG JAYA. Bukannya saya bermaksud promosi di sini. Saya hanya tergelitik mendengar nama dari bus itu.

Saya sempat berpikir, bisa tidak ya seperti nama bus itu, langsung jaya, jadi tak perlu melewati proses susah-payah lebih dahulu, melainkan langsung menjadi jaya. Enak juga kalau bisa seperti itu. Namun dari kebanyakan cerita orang-orang sukses yang pernah saya baca dan dengar, mereka semua sepertinya harus bersusah-susah dahulu, baru bersenang-senang kemudian.

Seperti misalnya tokoh Honda, itu lho yang menciptakan sepeda motor Honda, dia menjalani kehidupan yang berliku-liku sebelum bisa menciptakan sepeda motor tersebut. Keberhasilan dan kegagalan silih berganti menemaninya dalam karir usahanya. Apakah kamu tahu bagaimana dia bisa mendapatkan ide untuk menciptakan sepeda motor yang sekarang bisa kita temui di banyak tempat di seluruh Indonesia bahkan dunia?

Jadi begini, dia yang sudah sangat frustasi dengan perkerjaaannya, memutuskan untuk menaiki sepedanya menuju pantai, tempat dia melepas penat. Honda sendiri memang sangat suka bersepeda, bahkan ia memasang sebuah mesin yang dapat menggerakkan sepeda sendiri jika ia lelah mengayuh. Pada saat itulah dia mendapatkan ide untuk membuat sepeda motor. Ia pun mulai merakit sepedanya dan memasarkannya, ternyata bisa diterima oleh pasar. Sepeda motor tersebut terus dimodifikasi hingga rupanya seperti yang sekarang sering kita jumpai. Kemajuan teknologi turut andil dalam modifikasi sepeda motornya.

Salah satu kata-katanya yang saya sukai adalah : “Orang melihat kesuksesan saya yang hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99 persen kegagalan saya”. Kadang kita menginginkan sukses tanpa gagal, seperti nama bus itu LANGSUNG JAYA. Kita sering lupa bahwa sukses itu bukan hanya dilihat dari hasil tapi sukses juga melihat proses.

Jadi intinya, semuanya butuh proses untuk sukses, proses disini tidak harus diartikan dengan bersusah-susah, karena kadang Allah menguji kesabaran manusia, kadang pula menguji kesyukuran dari manusia tersebut. Lagipula jika kita tidak merasakan kesusahan dahulu bagaimana bisa kita mengetahui seberapa nikmatnya kemudahan bukan?

Nama : Vicky Oktriviani

NRP : G44100073

Laskar : Satu (1)

DILARANG PATAH SEMANGAT

Aku adalah seorang mahasiswa baru di kampus rakyat, IPB. Aku baru saja merasakan dunia perkuliahan yang menurutku agak berat. Awal semester ini menurutku sangat berbeda dengan matrikulasi kemarin. Mata kuliah yang lumayan banyak dan jadwal yang jauh lebih padat cukup membuatku kelelahan.

Aku ditempatkan pada kelas B, kelas yang sama semenjak matrikulasi. Aku sempat bertanya pada kakak kelas tentang mata kuliah apa saja yang diambil dalam semester satu ini bagi kelas B. Menurutku, setelah mengetahui apa-apa saja matkul kelas A dan B, mata kuliah B lebih ringan dibanding mata kuliah A.

Namun ternyata ‘keringanan’ tersebut ternyata tidak bertahan lama. Aku kaget melihat jadwal kuliahku yang cukup padat, hingga hari Sabtu, bahkan ada satu hari yaitu hari Kamis dimana aku harus kuliah dari pukul enam pagi hingga lima sore. Pukul 6-9 olahraga di gymnasium, pukul 10-12 responsi ppkn di sil-fateta, 13-15 kuliah PIP di gedung TPB lantai 3, 15-17 kuliah sosiologi umum di auditorium LSI.

Kekagetanku bertambah, pada waktu itu hari senin, hari pertama kuliah, saat aku mengetahui bahwa responsi sosiologi umum (sosum) sama dengan pratikum. Sosiologi kok ada praktikumnya? Itu tanyaku dalam hati. Ditambah dengan tugasnya yang agak ngeribetin (harus diketik, di-print dan ada formatnya) dan waktu pengumpulan yang cepat. Dilanjutkan dengan kuliah fisika yang ternyata juga ada tugas di tiap minggunya diiringi dengan waktu pengumpulan yang bahkan lebih cepat lagi dibanding sosum. Hari senin itu perasaanku benar-benar kacau. Terlebih diantara teman-teman dekatku (teman sekamar dan depan kamar) hanya aku yang kelas B. Anak kelas A jadwalnya belum sepadat B karena belum adanya praktikum, praktikum dimulai setelah lebaran. Aku berusaha tegar menjalaninya, terlebih aku sedang berpuasa jadi aku sering mohon kekuatan kepada-Nya.

Hari kuliah terpadatku pun akhirnya datang, semenjak bangun tidur aku berusaha menguatkan diri dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja dan menyenangkan. Olahraga berjalan lancar, begitupun responsi pkn (kolokium), kuliah PIP dan kuliah sosum. Tapi begitu aku sampai di asrama, aku merasa lelah sekali. Tiba-tiba saja ingin pulang ke rumah, berhubung selama bulan puasa tidak ada matkul olahraga pada hari sabtu dan jumat aku hanya kuliah sampai pukul 9 pagi. Namun aku masih ragu dengan keputusanku ini, aku pun memutuskan untuk menelepon mama dan menanyakan baiknya aku pulang atau tidak. Tebak, mamaku bilang apa? Beliau berkata sebaiknya aku tidak usah pulang karena tanggung, seminggu lagi juga libur panjang, padahal rumahku di Jakarta lho.

Air mataku pun menetes, rasanya seperti tumpahan emosi dari semua yang telah aku alami selama seminggu ini. Kekagetan-kekagetanku, rasa sendirianku memikul kesusahan ini, keinginanku yang ditolak, tubuh yang sudah lelah sekali rasanya. Semuanya menambah deras air mataku yang mengalir Aku menangis sesunggukkan di kamar depan, ditemani teman-teman dekatku.

Hari Sabtu, akhirnya aku pulang juga. Aku tidak enak badan kala itu. Aku tidak mau merasakan sakit di asrama, aku tidak mau merepotkan teman-temanku Aku bercerita pada Papa semuanya secara detail di rumah dan aku menangis saat bercerita. Kemudian beliau menyadarkanku, akan banyak hal.

Meskipun umurku lebih muda dibanding yang lain, baru enam belas tahun, aku harus tetap bersikap dewasa. Semuanya tidak akan selesai hanya dengan menangis. Tidak usah mengeluh, jalani saja apa yang ada di depanku. Harus ingat juga bahwa tidak hanya aku yang merasakan kesusahan ini, semua anak kelas B juga merasakan susah yang sama. Tidak perlu iri dengan orang lain, dengan anak kelas A yang belum terasa ‘berat’ kuliahnya, merupakan takdir dari Allah jikalau aku harus menjalani mata kuliah B lebih dahulu.

Padahal aku kan juga sudah lolos placement test Bahasa Inggris dengan nilai A, yang berarti mengurangi waktu kuliahku sebanyak empat jam dalam seminggu. Masih bisa pulang tiap minggu kalau kangen rumah dan isinya. Uang saku cukup, tidak perlu mencari tambahan, tidak perlu kuliah sambil bekerja karena kekurangan biaya. Semuanya itu harus disyukuri. :’)

Seminggu awal kuliah yang benar-benar memberikan pelajaran berharga dan sangat menginspirasiku. Oh iya, aku juga pernah dengar kata-kata seperti ini “Percayalah, Allah akan memberi cobaan disaat yang tepat, disaat kita sanggup untuk mengatasinya, dan seperti yang tertulis pada Al-Qur’an, sesungguhnya di setiap kesusahan itu ada kemudahan”. Jadi, jangan patah semangat ya!

cuma test doang

me at  Streptophilia turtur cyber

IPB